Technorati Profile Bookmark and Share








Online Suport


Satriamadangkara Online

    • September 2008
      MSSRKJS
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      282930    


    SALAM MERDEKA..!!!


    • Free chat widget @ ShoutMix
    • RECENT COMENTS

    ARCHIVES PERJUANGAN

    SLOGAN PERJUANGAN

    TESTIMONIAL

    • Thx dah di Add

    TEMAN SEPERJUANGAN

    STATISTIK PERJUANGAN



      Blog ini dikunjungi : 5376 kali


    WAJAH INTELIJEN





    Subcribe RSS of this blog

    SEMARAK MERDEKA

    24 Juli 2008

    Musik Nasionalisme Semangat 45 di Zaman Rock

    Ditulis oleh Harno Bhimantoro dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    Dalam sebuah audisi lomba nyanyi lagu-lagu patriotik, seorang peserta membawakan lagu Hari Merdeka. Ia keliru saat mengucapkan kata hayat. Maka terdengarlah, "S’kali merdeka tetap merdeka!/ Selama ’ayah’ masih dikandung badan...."

     

    Salah ucap itu terjadi pada audisi Festival Lagu Cinta Tanah Air (Flacinta), Mei lalu. Mereka akan berlomba di Gajah Mada Plaza pada 19-20 Agustus mendatang. Sekitar 40 peserta audisi Flacinta dari kategori usia 6-12 tahun banyak yang tidak hafal lirik lagu Halo-Halo Bandung, Maju Tak Gentar, dan bahkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

    Lebih parah lagi lagu Hymne Guru. Hanya seorang peserta yang mampu menyanyikan lagu ciptaan Sartono itu. Lagu Tanah Air gubahan Ibu Sud termasuk lagu favorit. Alasannya karena sering diperdengarkan di televisi. Tampaknya lagu bertema cinta Tanah Air seperti terlupakan.

    "Kami memancing animo masyarakat akan lagu nasional. Kami melihat anak-anak sekarang tak kenal lagu cinta Tanah Air," kata Hendarmin Susilo (61) dari perusahaan rekaman Gema Nada Pertiwi (GNP) yang ikut menyelenggarakan Flacinta.

    Ia teringat masa kecil era 1950-an sewaktu duduk di bangku sekolah dasar dan SMP Kwong Djin di Jembatan Batu, Jakarta. Di sekolah yang bermurid dari keturunan Tionghoa itu diajarkan lagu-lagu nasional dan lagu daerah dan ia masih hafal hingga hari ini.

    Dipermuda

    Zaman memang berubah. Musik pop membanjir setiap saat lewat seluruh medium, mulai dari CD, radio, sampai televisi. Sedangkan lagu patriotik hanya muncul insidental dan paling riuh pada bulan Agustus. Di tengah kondisi itu, muncul upaya untuk mendekatkan lagu cinta Tanah Air pada telinga muda. GNP menerbitkan album Kumpulan Lagu Wajib Indonesia Raya. Sony-BMG merilis album dari grup Cokelat Untukmu Indonesia-ku.

    Album Kumpulan Lagu Wajib memuat 14 lagu, seperti Satu Nusa Satu Bangsa, Tanah Air, Syukur, Bangun Pemudi Pemuda, Halo-Halo Bandung, Maju Tak Gentar, Berkibarlah Benderaku, Garuda Pancasila, Ibu Kita Kartini, sampai Hari Merdeka. Lagu-lagu patriotik tersebut didekatkan ke telinga anak-anak dengan cara melibatkan paduan suara anak-anak dari kelompok Surya Children Choir plus sejumlah penyanyi cilik.

    Cokelat lebih menyasar kaum muda. Mereka membawakan lagu patriotik dengan rasa Cokelat, yaitu pop rock. Lagu Halo-Halo Bandung karya Ismail Marzuki dan Hari Kemerdekaan gubahan HS Mutahar, misalnya, dibawakan dengan sentuhan gitar yang keras-keras kasar khas rock.

    "Kami menyesuaikan lagu dengan zaman supaya bisa didengar anak muda sekarang. Kalau dibawakan ala dulu, mungkin anak muda tidak suka," kata Edwin, gitaris Cokelat.

    Gaya "ala dulu" yang disebut Edwin adalah lagu-lagu dari piringan hitam stok lama yang sering diperdengarkan lewat corong radio. Dengan materi lagu yang sama, Cokelat dan GNP ingin bicara dengan kaum di zamannya, dengan tetap menjaga semangat lagu.

    Mereka ingin mengembalikan lagu patriotik kepada "pemiliknya", yaitu kaum muda. Mereka yakin bisa karena lagu-lagu tersebut pada zamannya digubah oleh kaum muda untuk kaum muda. Bangun Pemudi Pemuda ditulis Alfred Simanjuntak pada tahun 1943, saat ia berusia 23 tahun—lebih muda dari usia personel Cokelat saat ini.

    "Baru lepas dari Belanda, semangat kebangsaan kita bangkit. Tapi setelah itu kita dijajah Jepang. Pemudi pemuda harus bangkit," kata Alfred yang bulan September nanti genap berusia 86 tahun sambil melantunkan lagu ciptaannya, "Bangun pemudi pemuda Indonesia/Tangan bajumu singsingkan untuk Negara...."

    Lagu piknik

    Membawakan lagu cinta Tanah Air memang tidak gampang. Hendarmin mengaku harus dengan saksama menyaring hasil rekaman lagu sampai mendapatkan semangat sesuai dengan jiwa lagu.

    "Ada yang menyanyikan Halo-Halo Bandung dengan santai, seadanya saja, seperti orang mau piknik. Padahal, lagu itu harus dibawakan penuh semangat," tutur Hendarmin.

    Bagi Cokelat, membawakan lagu patriotik tak semudah menggarap lagu pop. Mereka harus menjaga esensi pesan lagu. Di sisi lain, mereka sadar tengah berhadapan dengan kaum muda di zaman rock dengan referensi dengaran yang begitu kompleks. Jika mereka berpola pada cara pembawaan lagu wajib secara formal dan kaku, bisa-bisa penonton konser akan bubar.

    Cokelat belajar pada lagu Bendera. Lagu bertema patriotik ciptaan Eros Candra itu dibawakan Cokelat sebagai lagu tema film Bendera. Lagu tersebut sering dibawakan dalam konser dan disukai publik. Formula kemasan Bendera itulah yang dijadikan acuan Cokelat menggarap lagu cinta Tanah Air, yaitu semangat "45" kemasan 2000.

    "Setiap kami manggung selalu ada yang bawa bendera Merah Putih. Kami terharu. Mungkin kita sudah jarang dengar lagu-lagu itu (lagu nasional), tapi kami percaya semangat itu masih ada," ujar Edwin.

    Hendarmin percaya benar akan kekuatan lagu-lagu patriotik. Selain membuat album lagu cinta Tanah Air untuk anak-anak, GNP juga merilis album lagu patriotik yang liriknya diterjemahkan dalam bahasa Mandarin, lengkap dengan buku notasi dan lirik dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia, Mandarin, dan Inggris.

    "Saya ingin menunjukkan bahwa Indonesia bukan bangsa yang rusuh. Bangsa yang rusuh tak akan bisa membuat lagu patriotik dan lagu daerah yang indah seperti yang kita punya itu," kata Hendarmin.

    By : Frans Sartono


    Belum ada komentar untuk Musik Nasionalisme Semangat 45 di Zaman Rock

    Leave a Reply

    Note: Comment untuk tulisan ini tidak diperkenankan format html

    footer